Page 29 - SIMASBEN
P. 29
menjelaskan mengapa suatu persoalan layak mendapatkan
perhatian.
Setelah audiens memahami masalah dan dampaknya,
barulah pembicara memperkenalkan solusi sebagai jalan
keluar yang ditawarkan.
Framework ini berangkat dari cara berpikir yang
sederhana namun logis. Orang cenderung menerima sebuah
solusi setelah memahami mengapa solusi tersebut
diperlukan.
Inspirasi Literatur
Dalam praktik komunikasi, pola berpikir Masalah–
Dampak–Solusi banyak digunakan dalam presentasi
perubahan organisasi, komunikasi kebijakan, advokasi
sosial, maupun penyampaian rekomendasi.
Meskipun istilah tersebut tidak digunakan secara
eksplisit oleh Nancy Duarte, prinsip dasarnya memiliki
keselarasan dengan konsep yang dijelaskan dalam Resonate.
Duarte (2010) menjelaskan bahwa komunikasi yang efektif
membangun kontras antara kondisi yang sedang terjadi
(what is) dan kondisi yang diharapkan (what could be).
Kontras tersebut menciptakan ketegangan yang mendorong
audiens memahami mengapa perubahan perlu dilakukan.
Dalam konteks inilah, penjelasan mengenai masalah dan
dampaknya menjadi jembatan menuju solusi yang
ditawarkan. (Duarte, 2010).
Oleh karena itu, dalam buku ini Framework Masalah–
Dampak–Solusi diposisikan sebagai pola berpikir
komunikasi yang memiliki keselarasan dengan prinsip
21 |

