Page 25 - SIMASBEN
P. 25
BAB II
Enam Framework Berpikir dalam
Komunikasi Akademik dan Ilmiah
A. Mengapa Komunikasi Membutuhkan Framework
Berpikir?
Setelah memahami bahwa komunikasi bukan sekadar
kemampuan berbicara, pertanyaan berikutnya adalah
bagaimana seseorang dapat menyusun gagasan agar mudah
dipahami oleh orang lain.
Dalam praktik sehari-hari, banyak orang
mengandalkan spontanitas ketika berbicara. Mereka
percaya bahwa selama menguasai materi, penjelasan akan
mengalir dengan sendirinya. Pendekatan ini mungkin
berhasil dalam percakapan informal, tetapi tidak selalu
efektif dalam komunikasi akademik dan ilmiah.
Komunikasi akademik hampir selalu memiliki tujuan
yang jelas. Seorang dosen ingin mahasiswanya memahami
konsep tertentu. Seorang peneliti ingin audiens memahami
hasil penelitiannya. Seorang widyaiswara ingin peserta
pelatihan mampu menerapkan kompetensi yang dipelajari.
Dalam situasi seperti ini, penyampaian pesan tidak cukup
hanya mengandalkan spontanitas. Diperlukan sebuah cara
berpikir yang membantu penyaji menentukan apa yang
harus disampaikan terlebih dahulu, informasi apa yang
17 |

