Perjalanan sore kemarin terasa luar biasa. Saya duduk di kursi tengah Travel Baraya, meninggalkan Thamrin menuju Buah Batu. Di sekitar KM 20, ketika lalu lintas mulai melambat, saya membuka ponsel dan menemukan laporan terbaru dari OECD berjudul Governing with Artificial Intelligence (September 2025).
Laporan itu seolah berbicara langsung kepada saya: “Bagaimana pemerintah dapat mengatur, memanfaatkan, sekaligus menyeimbangkan risiko dan peluang dari AI?”
Sebagai widyaiswara, saya merasa ini bukan sekadar bacaan ringan. OECD menegaskan bahwa tata kelola AI harus memastikan transparansi, akuntabilitas, dan keadilan dalam setiap proses adopsinya.
Dunia sedang berubah cepat, dan lembaga pelatihan publik seperti tempat saya mengabdi tak bisa hanya menjadi penonton.
Ketertinggalan dan Risiko yang Mengintai
Tak terasa membaca dan memahami laporan itu, di KM 72, sopir travel berhenti sejenak di rest area. Sambil menikmati kopi hangat, saya membuka TikTok dan mendapati video yang menakjubkan: seorang content creator menampilkan suasana kehidupan masa kerajaan kuno, lengkap dengan pakaian tradisional dan latar abad lampau semuanya hasil generatif AI. Begitu realistis, seakan saya sedang berjalan di masa lalu.
@medanamrulloh Majapahit #sora2 #majapahit #sejarah #fyp #aicreator ♬ suara asli – Medan Art
@exposuro Yuk kita manfaatkan teknologi, Weekend ini coba ngevlog di jaman majapahit dulu 🎥 😅 #veo3 #googleveo3 #ai #artificialintelligence ♬ suara asli – Exposuro
Saya berpikir, betapa cepatnya dunia kreatif memanfaatkan AI untuk mendidik, menginspirasi, dan memvisualkan sejarah. Namun di sisi lain, muncul pula tantangan besar yang saya catat dari laporan OECD dan fenomena video tersebut:
-
Kesenjangan adopsi AI, Lembaga pelatihan swasta bergerak lebih cepat, sementara lembaga publik masih terkendala birokrasi, literasi digital, dan infrastruktur.
-
Risiko misinformasi dan rekayasa sejarah, Teknologi generatif AI bisa menciptakan narasi masa lalu yang tidak akurat.
-
Isu etika dan hak cipta. Siapa pemilik citra atau suara yang dihasilkan AI? Apakah sudah ada izin dari individu, komunitas, atau budaya yang direpresentasikan?
-
Governance dan akuntabilitas, Bagaimana mekanisme pertanggungjawaban bila AI digunakan dalam pelatihan publik dan muncul dampak negatif?
Arah dari OECD dan Praktik Global
OECD menawarkan prinsip-prinsip tata kelola AI yang relevan untuk menjembatani inovasi dan etika, antara lain:
-
Pemerintah perlu membangun AI governance framework yang adaptif, kolaboratif, dan partisipatif.
-
Perlu adanya AI literacy program bagi ASN agar pemanfaatan AI tidak hanya kreatif, tapi juga etis dan aman.
-
Setiap proyek AI publik harus diaudit untuk memastikan transparansi algoritmik dan mencegah bias.
Laporan OECD menegaskan bahwa governance bukan untuk membatasi inovasi, tetapi untuk memastikan inovasi tetap berpihak pada manusia.
Refleksi Diri Seorang Widyaiswara
Ketika travel kembali melaju meninggalkan rest area, saya menatap jendela dan merenung.
Sepertinya saya sebagai widyaiswara harus lebih serius meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pemanfaatan AI untuk pembelajaran. Namun, itu tak cukup. Saya harus menyeimbangkannya dengan etika, tanggung jawab, dan integritas profesional.
Jiwa saya kembali terpanggil sebagai alumnus Fakultas Hukum untuk turut berkontribusi dalam memperkuat perlindungan hukum bagi ASN di era pengembangan kompetensi berbasis teknologi dan AI. Saya ingin tahu dan memastikan bahwa setiap langkah inovasi digital tetap berpijak pada prinsip keadilan, kemanusiaan, dan akuntabilitas publik. Semua ini berpijak dari dari sebuah keyakinan saya bahwa perlindungan hukum yang kuat justru akan melahirkan lebih banyak inovasi yang bermartabat
Berikut beberapa platform generatif AI video yang tengah menjadi sorotan dan dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran visual sejarah, komunikasi kebijakan, maupun pelatihan publik:
| Platform | Pengembang | Kelebihan Utama | Tautan |
|---|---|---|---|
| Sora | OpenAI | Menghasilkan video realistis dari teks naratif | openai.com/sora |
| Veo 3 | Google DeepMind | Kualitas sinematik dan pemahaman konteks tinggi, cocok untuk visualisasi kompleks | deepmind.google/veo |
| Runway ML | Runway | Editing video berbasis AI, populer untuk kreator konten | runwayml.com |
| Pika Labs | Pika | Transformasi teks menjadi video pendek dengan gaya artistik | pika.art |
| Synthesia | Synthesia | Avatar AI dan narasi realistis untuk pelatihan dan e-learning | synthesia.io |
Penafian (Disclaimer)
Tulisan ini disusun dengan bantuan AI sebagai mitra berpikir, bukan pengganti penulis. Seluruh isi learning journal ini merupakan bagian dari proses kreatif dan berpikir kritis Indra Riswadinata dalam menyeimbangkan kolaborasi antara manusia dan teknologi. Setiap gagasan dan kesimpulan telah divalidasi secara sadar dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Tulisan ini juga merefleksikan hasil pembelajaran dari berbagai referensi yang penulis olah dengan dukungan AI untuk memperjelas ide dan mempercepat proses penulisan.
Apabila terdapat hal yang ingin ditanyakan, dikonfirmasi, atau didiskusikan lebih lanjut, silakan hubungi saya melalui tombol chat WhatsApp di pojok kanan website ini.







