Merawat Memori, Membangun Institusi: Sebuah Refleksi tentang Pembelajaran Kolektif dalam Tata Kelola

Merawat Memori, Membangun Institusi: Sebuah Refleksi tentang Pembelajaran Kolektif dalam Tata Kelola

Sebagai seorang Widyaiswara yang sehari-hari berinteraksi dengan banyak talenta hebat di lembaga riset, saya sering kali dibuat kagum oleh semangat sivitas dalam mengembangkan kapasitas diri. Pembelajaran individu (individual learning) adalah percikan api yang sangat berharga; ia menjadi fondasi utama dari kecerdasan sebuah organisasi. Tentu saja, tanpa individu-individu yang terus belajar, roda inovasi tidak akan berputar. Namun, dalam perjalanan karir dan pencarian saya, sebuah pertanyaan reflektif sering muncul: bagaimana kita memastikan bahwa percikan-percikan kecerdasan individu ini tidak menguap begitu saja saat seseorang berpindah tugas atau purna bakti, melainkan menetap dan menerangi seluruh institusi?
Pertanyaan inilah yang membawa ketertarikan mendalam saya pada konsep Pembelajaran Institusional (Institutional Learning) dalam tata kelola (governance).
Untuk mendalami hal ini, saya mengajak Anda menyelami pemikiran Tanya Heikkila dan Andrea K. Gerlak dalam karya mereka di Bab 23 Handbook on Theories of Governance. Mari kita urai bersama dengan alur pikir SIMASBEN khas IndraPedia! SIgnifikansi, Masalah, Solusi dan BENefit  dari bagaimana sebuah institusi itu “belajar”.
1. Signifikansi: Mengapa Institusi Harus Belajar?
Tata kelola modern melibatkan proses pengambilan keputusan yang sangat kompleks, di mana berbagai aktor mulai dari pembuat kebijakan, pemangku kepentingan, hingga administrator harus duduk bersama mempertimbangkan dan memperdebatkan masalah-masalah bersama. Dalam lanskap yang rumit ini, Heikkila dan Gerlak menegaskan bahwa :
pembelajaran adalah elemen esensial untuk tata kelola yang efektif dan produktif. Tanpa adanya proses belajar, hampir mustahil bagi aktor-aktor tata kelola untuk memahami kompleksitas masalah sektor publik dan menyelesaikan konflik di antara berbagai kepentingan yang bersaing.
Bagi saya, ini adalah panggilan bagi profesi di bidang pengembangan kompetensi. Peran kita bukan sekadar mencetak individu yang cakap, tetapi membantu institusi membangun kapasitas untuk menyatukan berbagai pemahaman yang berbeda menjadi sebuah pijakan langkah bersama. Pembelajaran dalam tata kelola harus dilihat sebagai fenomena kolektif, meskipun kita menyadari bahwa pada akhirnya proses kognitif tetap terjadi di dalam pikiran masing-masing individu.
2. Masalah: Mengapa Belajar Bersama Itu Sulit?
Jika belajar itu penting, mengapa praktiknya di level institusi sangat menantang? Heikkila dan Gerlak menyoroti beberapa realitas yang sangat manusiawi.
Pertama, setiap individu memiliki keterbatasan kognitif (bounded rationality) yang memengaruhi cara informasi diterima dan diproses. Para aktor kebijakan sering kali menyaring informasi baru berdasarkan keyakinan mendasar mereka dan cenderung menolak informasi yang bertentangan dengan keyakinan tersebut sebuah fenomena yang disebut biased assimilation. Artinya, sekadar memberikan data atau fakta baru tidak otomatis membuat orang (atau institusi) belajar.
Kedua, dalam lingkungan tata kelola yang sering kali diwarnai konflik (adversarial subsystems), para aktor cenderung resisten terhadap informasi baru. Isu tata kelola juga sering kali tumpang tindih melintasi berbagai konteks pengambilan keputusan dan melibatkan banyak aktor yang beragam, sehingga sangat memperumit kemampuan kita untuk mendefinisikan dan mengamati proses pembelajaran itu sendiri.
3. Solusi: Memadukan Proses dan Produk Pembelajaran
Untuk mengatasi kebuntuan tersebut, Heikkila dan Gerlak menawarkan sebuah cara pandang yang menjembatani dua kutub pemikiran. Mereka mendefinisikan pembelajaran secara utuh sebagai proses kolektif sekaligus produk kolektif.
Sebagai sebuah proses, belajar melibatkan tindakan mengakuisisi informasi (misalnya melalui trial and error), menilai atau menerjemahkan informasi tersebut, dan mendiseminasikannya ke seluruh individu dalam ruang kolektif. Namun, proses ini harus berujung pada sebuah “produk”, yakni wujud nyata dari pembelajaran seperti munculnya ide bersama, strategi baru, aturan, atau kebijakan yang disepakati.
Bagaimana cara menumbuhkannya? Kita harus memperhatikan tiga fitur utama dalam lingkungan tata kelola:
  • Fitur Sosial: Berkaitan dengan dinamika interaksi, seperti membangun tingkat kepercayaan (trust), meminimalkan konflik, dan menjaga frekuensi interaksi yang rutin di antara aktor-aktor yang beragam
  • Fitur Struktural: Membutuhkan kehadiran pemimpin yang terampil atau “aktor perantara” (brokers) yang mampu menjembatani pihak-pihak dengan kepentingan yang bersaing. Aturan main yang jelas juga penting untuk memitigasi ketidakseimbangan relasi kuasa
  • Fitur Teknis: Ketersediaan informasi dan instrumen yang tepat. Yang menarik, sistem informasi harus dirancang seimbang dengan kapasitas aktor agar terhindar dari kondisi kelebihan informasi (information overload) maupun kekurangan informasi (information underload).
Di sinilah desain tata kelola yang inklusif, seperti organisasi penjembatan (bridging organizations), sangat dibutuhkan untuk menyediakan ruang aman bagi pembangunan kepercayaan, resolusi konflik, dan mediasi lintas-disiplin.
4. Benefit: Terciptanya “Cara Mengetahui” Bersama
Ketika institusi memfasilitasi ruang-ruang dialog yang sengaja dirancang untuk pembelajaran, manfaat yang lahir sangatlah mendalam. Berbagai proses ini membantu menciptakan apa yang disebut sebagai shared “ways of knowing” atau kerangka pemahaman bersama terhadap suatu isu kebijakan.
Memberi ruang bagi beragam epistemologi dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dapat membantu memecahkan kebuntuan kebijakan (policy stalemates). Aktor-aktor yang beragam dapat saling memahami dan memercayai satu sama lain dengan mengeksplorasi isu kebijakan dari berbagai dimensi. Pembelajaran kolektif ini pulalah yang menjadi urat nadi dari tata kelola yang adaptif (adaptive governance), di mana individu dan organisasi terus-menerus menghubungkan diri untuk menyesuaikan pendekatan mereka dalam menghadapi sistem yang kompleks dan tidak pasti.
Tentu saja, kita tidak boleh terjebak pada klaim yang berlebihan (overclaim). Heikkila dan Gerlak mengingatkan secara objektif bahwa pembelajaran tidak selalu berujung pada perbaikan hasil (improved outcomes). Kadang kala, proses belajar justru menguatkan keyakinan yang salah atau menghasilkan kebijakan yang di kemudian hari terbukti tidak efektif. Tantangannya adalah merancang proses yang menyeimbangkan trade-off dalam sistem tata kelola yang kompleks.
Refleksi Penutup
Menggali karya Heikkila dan Gerlak memberikan saya peneguhan:
bahwa profesi di bidang pengembangan kompetensi harus berani berevolusi. Kita tidak hanya hadir untuk menyemai benih-benih kecerdasan di ruang kelas, tetapi juga terpanggil untuk menjadi arsitek dan fasilitator yang merajut interaksi sosial, struktural, dan teknis di dalam institusi. Dengan demikian, kecerdasan individu yang sangat kita hargai itu tidak akan berdiri sendiri-sendiri, melainkan melebur menjadi kebijaksanaan institusional yang kokoh dan tahan uji.
Mari terus belajar, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk institusi yang kita cintai.
Referensi

Ansell, C., & Torfing, J. (Eds.). (2022). Handbook on theories of governance. Edward Elgar Publishin

ebook di GooglePlay Book klik disini 

Share on Whatsapp
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
New title
Hubungi Indra, Klik disini!

Terima kasih sudah berkunjung ke indrapedia.com!

Sahabat Belajar

Kang Indra

Online

Kang IndraBersama Indra dari Indrapedia

Hai, ada yang bisa saya bantu? 00.00